Lonely Days

Makassar – Terhitung sudah sekitar 6 bulan, seolah semuanya pergi. Saya tidak mengatakan kehidupan menjadi makin buruk, tapi hampir semuanya pergi, yang tersisa hanya orang-orang yang sedikit saja, yang memang tidak bisa pergi karena tempatnya memang sudah di sini.

Adik besar mengembara lagi, kali ini ke Lombok. Melanjutkan pengabdiannya sebagai tenaga kesehatan Nusantara Sehat. Adik kecil sekarang terlalu sibuk kuliah, seperti tidak ingin kalah sibuk dengan kakak-kakaknya dulu yang jarang ada di rumah. Lalu, Saya: kenapa pula saya kembali ke rumah ini? Seolah-olah menjadi anak tunggal.

Istri dan anak saat ini berada di kampung di Riau. Bukan kampung saya, karena saya jelas orang kota. Huft. Mereka saya kirim kembali ke tempat mertua saya karena tidak mungkin mengurus anak dalam kondisi begini. Saya berangkat subuh, pulang tengah malam, orangtua saya juga masih kerja. Jadinya, si anak kecil gak ada yang bantu ngurusin, cuma mamaknya seorang diri.

Rencananya, bulan Mei mereka mau saya kembalikan ke Makassar, mendampingi saya. Akan tetapi wabah COVID-19 ini menyebabkan banyak kekhawatiran. Apalagi bagi pekerja medis.

How is residency life? Seperti biasa, capek. Tapi kehidupan residen sudah jauh lebih manusiawi dari sebelumnya. Kadang-kadang malah saya berharap diliburkan juga sebagaimana orang-orang pada umumnya, terkait COVID-19. Tapi, saya dokter. Saya residen. Saya masih sehat. Peran saya saat ini mengabdi. Dari pengabdian ini saya banyak dapat pelajaran. Dari pengabdian ini saya dapat pengembangan diri.

That’s what heroes do.

 

Satu respons untuk “Lonely Days

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s