2020 usai

Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya login. Apa kabar? Semua sudah bahagia sekarang kan? Tidak perlu ada yang dirisaukan lagi. Kehidupan berjalan seperti yang seharusnya. Saya menjalani residensi anestesiologi dengan cukup baik, mendapatkan istirahat yang cukup, dan sejauh ini tidak begitu banyak tertinggal masalah tugas. Perkiraan saya lulus 3-4 tahun lagi. Lamaya? Istri dan anak sedang tidak bersama saya sekarang, mereka akan kembali dalam waktu dekat, tapi siapa yang tahu rencana selanjutnya? Adik besar lulus CPNS, sekarang saya tidak punya teman bermain kalau sedang ada di rumah. Adik kecil sebentar lagi sidang proposal. Semuanya berjalan seperti seharusnya. Bagaimana dengan kalian?

Setelah sekian lama tidak login, tampilan untuk edit teks pada wordpress ini berubah. Saya kebingungan. Kegiatan saya sehari-hari sementara ini adalah membius. Selebihnya saya belajar untuk persiapan ujian board bulan Maret. Ujian board memang cepat, semester kacung begini sudah harus ujian. Kalaupun misalnya saya ditakdirkan untuk tidak lulus ya masih ada kesempatan untuk belajar lagi. Kalau lulus, alhamdulillah beban berkurang satu lagi. Wish me luck!

Tahun 2020 adalah tahun yang menarik, membolak-balikkan keadaan. Kehidupanku yang kubayangkan tidak ada tidur dan jarang pulang ternyata menjadi tidak seburuk itu. COVID-19 menjadikan segala sesuatu yang terlalu capek itu dilarang, sesuatu yang terlalu akrab itu dilarang, dan berdiam diri di rumah ketika tidak ada keharusan keluar rumah itu dianjurkan. Berdampak pada kehidupan residensiku yang seharusnya melelahkan menjadi menyenangkan. Atau mungkin saya hanya sekedar suka saja suasana ketika saya bekerja sendirian. Selain itu, tidak bisa saya pungkiri bahwa COVID-19 ini merenggut banyak nyawa dengan cara yang misterius. Saya menyaksikannya setiap hari, di ICU COVID-19, tapi ya sudahlah.

Sepertinya saya kehabisan bahan untuk dibahas. Saya tidak akan membahas masa lalu, karena pada dasarnya semuanya sudah bahagia. Ini sudah seperti after-credit dari filem-filem berdurasi panjang dan bersambung-sambung. Kadang, saya berharap masih ada alter-ending tapi ini kehidupan nyata, bukan filem. Dengan demikian, sampai jumpa tahun depan! Semoga COVID-19 lekas berlalu.

Lonely Days

Makassar – Terhitung sudah sekitar 6 bulan, seolah semuanya pergi. Saya tidak mengatakan kehidupan menjadi makin buruk, tapi hampir semuanya pergi, yang tersisa hanya orang-orang yang sedikit saja, yang memang tidak bisa pergi karena tempatnya memang sudah di sini.

Adik besar mengembara lagi, kali ini ke Lombok. Melanjutkan pengabdiannya sebagai tenaga kesehatan Nusantara Sehat. Adik kecil sekarang terlalu sibuk kuliah, seperti tidak ingin kalah sibuk dengan kakak-kakaknya dulu yang jarang ada di rumah. Lalu, Saya: kenapa pula saya kembali ke rumah ini? Seolah-olah menjadi anak tunggal.

Istri dan anak saat ini berada di kampung di Riau. Bukan kampung saya, karena saya jelas orang kota. Huft. Mereka saya kirim kembali ke tempat mertua saya karena tidak mungkin mengurus anak dalam kondisi begini. Saya berangkat subuh, pulang tengah malam, orangtua saya juga masih kerja. Jadinya, si anak kecil gak ada yang bantu ngurusin, cuma mamaknya seorang diri.

Rencananya, bulan Mei mereka mau saya kembalikan ke Makassar, mendampingi saya. Akan tetapi wabah COVID-19 ini menyebabkan banyak kekhawatiran. Apalagi bagi pekerja medis.

How is residency life? Seperti biasa, capek. Tapi kehidupan residen sudah jauh lebih manusiawi dari sebelumnya. Kadang-kadang malah saya berharap diliburkan juga sebagaimana orang-orang pada umumnya, terkait COVID-19. Tapi, saya dokter. Saya residen. Saya masih sehat. Peran saya saat ini mengabdi. Dari pengabdian ini saya banyak dapat pelajaran. Dari pengabdian ini saya dapat pengembangan diri.

That’s what heroes do.

 

Crisis

MakassarI was shocked! Saya tidak menyangka kehidupan jadinya seperti ini, berjalan secepat ini. Sepertinya memang benar ungkapan selamat menempuh hidup baru disematkan kepada orang yang baru saja menikah. Banyak hal terjadi setelahnya yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Setidaknya itu bagi saya.

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat kepada Lady N atas pertunangannya. I am really happy and wishing you a really happy life.

Oke, sejauh ini saya merasa creepy atas apa yang telah saya lakukan di separuh hidup saya sampai pada titik ini. Tidak ada cara memperbaikinya kecuali dengan menjalani kehidupan sekarang dan setelah ini dengan sebaik-baiknya. Dan di sinilah saya mulai bercerita lagi.

Tahun lalu, saya bimbang apakah saya akan melanjutkan kontrak di RSUD Maba atau tidak. Berhubung saya akan menikah saat itu, yang juga artinya saya akan kehabisan pendanaan, saya berencana memperpanjang kontrak setahun lagi. Yap, andaikata rencana itu terlaksana maka kebimbangan tahun lalu akan terulang lagi hari ini. Tapi tidak!

Ternyata saya tidak perlu repot-repot memikirkan tentang perpanjangan kontrak saya karena direktur dengan keputusannya sudah berkata lain. Saya diberhentikan karena kebijakan tidak tertulisnya tidak mengizinkan pasangan suami istri dalam satu instansi, atau dengan kata lain: perpanjangan kontrak saya tidak diterima.

Saya lalu mengembara lagi ke Bekasi, hanya untuk menemukan bahwa cara hidup dengan menjadi tenaga dokter tidak tetap / pengganti sudah bukan zamannya lagi. Belum berapa minggu saya di Bekasi, istri saya sudah mencak-mencak meminta saya kembali ke Halmahera Timur.

Saya juga menemukan bahwa dalam kehidupan pernikahan ini, hasrat saya untuk berkelana harus ditekan sedemikian rupa. Sebetulnya saya berkesempatan untuk turun membantu di bencana nasional yang terjadi tahun ini (bencana Lombok dan Palu), tetapi istri tidak merestui jadi apa boleh buat.

Menunggu kontrak istri di RSUD Maba selesai, saya mengajukan diri ke dinas kesehatan kabupaten untuk mengisi puskesmas. Namun pada akhirnya saya terpaksa mengundurkan diri karena masalah kesehatan kandungan istri. Akibat pengunduran diri itu, didukung oleh situasi kas kabupaten, sampai sekarang setengah gaji saya belum dibayarkan.

Saya sempat mendaftar untuk jadi CPNS, tetapi tidak lulus. Dan seterusnya sampai saat ini saya masih berstatus pengangguran.

Terus, apa rencana saya sekarang? Kalau tentang pekerjaan, tidak ada. Sertifikasi ACLS saya tinggal sebulan lagi kedaluwarsa. Sertifikasi ATLS belum pernah ikut. Kalau mau kerja di UGD setidaknya pihak RS akan minta dua sertifikat itu. Yang ada hanya sertifikasi hiperkes untuk kerja di perusahaan, tetapi tawaran yang tersedia tidak direstui oleh istri. Ribet ya kehidupan setelah menikah itu? Well, I’ve been warned.

Sekarang saya berencana sekolah lagi. Bagaimana pun juga hati ini tidak tenteram kalau belum mencapai tahap itu. Soal pembiayaan saya angkat tangan! Saya tidak bisa membiayai diri saya sendiri. Tapi soal restu, istri dan orang tua saya mendukung. Yang selanjutnya dijalani saja dulu, mudah-mudahan ada jalannya.

Special messages: Despite my crisis, I glad everyone is doing okay with their life. Some of them pass the Civil Servants / Federal Workers test. Some of them continue to residency. Some of them still struggle to be doctors. Some of them has finally settled down to build their own little family. And I want them to know I really am proud of them and I missed them so much! Time sure flies so fast.

End of This Blog

Saya pergi. Saya telah memutuskan untuk pergi dan berubah. Maaf sudah menyusahkan. Tidak sepantasnya saya pergi dari sesuatu yang kubanggakan bertahun lamanya, tetapi keputusan sudah bulat. Saya pergi, menjadi diriku yang sesungguhnya. Tidak akan ada kebohongan di sana. Tidak ada. Hanya ada saya dan jiwaku yang apa adanya. Kuharap kau mengerti. Kuharap kau mengerti. Kuharap kau mengerti. Ya, kau pasti mengerti. Silakan temui saja saya di sana.

Duhai impianku, saya akan datang. Saya tidak akan menghindar lagi. Jalanku, jalan menemukanmu.

Feel It!

Mungkin ini akan jadi posting terakhir karena selaku admin saya sudah kehilangan alasan, juga kehilangan sumber daya untuk menulis di sini. Suatu hari, ketika alasan itu sudah muncul lagi, dan ketika sumber daya untuk menulis itu kumiliki lagi, dengan sendirinya saya pasti akan menulis lagi. Namun, untuk sekarang kurasa tidak, tidak ada.

Menyerah. Itu langkah yang kuambil setelah melihat perkembanganku selama 20 tahun terakhir. Saya buruk rupa, payah, terlalu angkuh, dan itu kualami sejak kecil. Saya sadar jika selama ini saya hanya menjadi satu dari sekian banyak kotoran yang menempel di bumi yang tidak paham harus berbuat apa sehingga tidak pantas mendapatkan apa-apa. Payah. Saya menyerahkan semua impianku kepada semua mereka yang berhak dan pantas. Jika suatu hari saya merasa berhak dan pantas, saya akan mengambil kembali semua impian itu untukku sendiri. Sekarang biarkan aku menyerah dan menghilang. Hilangnya sebuah noda tidak menjadikan sebuah kanvas besar kehilangan arti.

Saya tidak bisa bertahan sebagai Falzart Plain lagi, kehidupan Falzart Plain sudah berakhir. Dia tidak lagi memiliki hal berharga untuk dibagikan dalam kondisinya yang sekarang. Entah, saya sendiri merasa kehilangan sosok Falzart. Dan kurasa tidak semua orang menganggap Falzart itu penting, jadi untuk apa dipertahankan?

Berakhir sudah, habis sudah yang akan diceritakan. Hilang sudah aku.

Duhai impianku, jika diriku tidak pantas bagimu, carilah yang lebih pantas, tetaplah dengan yang lebih pantas. Untuk sekarang, saya menyerah dan menyerahkan kalian kepada yang lebih pantas.

Sindroma Nefritik Akut

Jadi ingat sesuatu, soal Sindrom-sindroman dan posting singkat. Hari ini ingatnya tentang Sindroma Nefritik Akut. Sindroma Nefritik Akut adalah kumpulan gejala klinik berupa:

  1. Proteinuria (ada protein dalam urin)
  2. Hematuria (ada darah dalam urin)
  3. Azotemia (peningkatan BUN –blood urea nitrogen– dalam darah)
  4. Red Blood Cast (Torak sel darah merah)
  5. Oliguria (sedikit urin)
  6. Hipertensi

Disingkat PHAROH. (UKK Nefrologi IDAI, 2012)

Udah ah capek, nggak mau bahas lagi.

Rasa Takut

“Si Pemberani melangkah gagah, si penakut lari sembunyi.”

Belakangan ini saya merasa tidak bisa melakukan apapun. Tiga pekan saya berjuang, saya tidak mampu melakukan segala yang saya rencanakan. Payah. Akibatnya, saya bermasalah selama tiga pekan ini dengan urusan akademik dan belum juga kuselesaikan.

Dulu, saya adalah si disiplin, si penakut, atau entah apa namanya. Saya dulunya selalu berusaha menepati yang namanya ‘deadline’ karena saya selalu takut tidak bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, misalnya nilai, dan sebagainya. Dulunya ada semacam kepuasan pribadi ketika saya menyelesaikan segalanya sebelum ‘deadline’. Dan saya masih punya yang namanya ‘The Power of Kepepet’.

Sekarang sepertinya sudah berbeda. Saya tidak pernah lagi panik jika deadline sudah dekat. Entah apa yang membuatku jadi tidak takut akan apapun lagi, bahkan deadline. Panik sudah tidak pernah lagi saya alami. Dan ketika kukira hal ini baik, ternyata tidak sama sekali.

Saya rasa semua yang terjadi padaku itu tidak masalah selama saya bisa melakukan segala apa yang saya rencanakan. Akan tetapi, saya selalu merasa tidak tepat ketika melakukan rencana itu. Mood-ku selalu tidak tepat, dan akibatnya semuanya menjadi kacau balau. Ya, saya selalu merasa bahwa perencanaan untuk urusan apapun sekarang tidak realistis, mood-ku selalu hilang tiba-tiba, dan saya selalu merasa tidak tepat. Ada yang hilang dari diriku kurasa, rasa takut.

Rasa takut ini penting, jangan dihilangkan. Rasa takutku sudah terlanjur hilang, dan saya menjadi tidak produktif sekarang.

Inbox: Jumadil Akhir 1433

Puji Syukur saya panjatkan ke hadirat Rabb-ku, Allah swt. karena hari ini saya dengan tepat waktu memposting inbox sms saya, pada hari ini, 1 Rajab 1433 Hijriyah. Tulisan di postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya, dan postingan yang jauh sebelumnya, di mana isi postingan ini merupakan sms dakwah yang saya dapatkan selama bulan Jumadil Akhir 1433 H. Jadi, ini dia:

Baca lebih lanjut