Kiriman Paket dari Genksukasuka.com

Semestinya saya menuliskan ini sejak dulu, maksudnya beberapa hari yang lalu lah. Bukan maksud untuk menunda-nunda, tapi saya ingin ada alat mengambil gambar semacam kamera atau apa gitu yang bisa dipakai untuk menampilkan apa yang ingin saya perlihatkan. Saya takut tidak ada waktu lagi setelah ini, jadi saya paksakan posting sekarang. 😀

Jadi, beberapa hari yang lalu, kalau tidak salah dua minggu yang lalu, ada sebuah paket datang ke rumah. Awalnya, saya heran. Kenapa ayah ibuku membelikan saya buku semacam buku di bawah ini. Mereka tahu kalau saya seorang narablog, tapi saya tidak menyangka perhatian mereka terhadap dunia bloggingku sedemikian hebatnya sampai-sampai membelikan saya buku. Tiba-tiba saja buku itu ada di laci.

Tadaa… ini bukunya.
PS: Lembar kuning TIKI itu saya juga nggak bisa baca.

Buku itu ada kantongan plastik beningnya dan selembar tanda terima paket TIKI. Saya yakin, ini pasti hadiah Give Away, tapi yang mana? Soalnya lembar kuningnya itu sudah tidak jelas tulisannya. Satu-satunya tulisan yang bisa dibaca di situ adalah Tuesday, 4 September 2012. Seingatku, saat saya tiba di rumah waktu itu adalah hari Jumat. Saya ingat hari itu karena saya sedang galau masalah akademik dan niatnya pengen cerita ke orangtua. Artinya, saya terlambat tahu 3 hari dari yang seharusnya. Dan juga terlambat posting 2 minggu dari yang seharusnya. 😆

OK, akhirnya saya menemukan pembungkus paketnya. Di situ jelas tertulis dari siapa paket tersebut. Ternyata, paket itu adalah dari Jay Boana di genksukasuka.com. Saya ingat saya menang Give Away-nya beberapa juta tahun yang lalu. Paketnya berupa buku untuk menjadi Top Ten di Google dengan WordPress. Asik!

Jangan khawatir kalau nggak bisa baca. Di atas itu bacanya Penerima: Falzart Plain, dst. Di bawah itu bacanya genksukasuka.com

Bukunya bagus, saya suka. Tapi setelah saya coba aplikasikan ternyata buku itu sudah terlambat beberapa tahun dari jaman sekarang. Google sepertinya telah mengubah algoritmanya. Selain itu, Yahoo webmaster sepertinya sudah bergabung dengan Bing. Tapi, ya… lumayanlah. Dasar tetap saja dasar, saya memang belum tahu dasarnya sih. Hihihihi…

OK, saya gila selama beberapa hari di buku itu. Setelah itu saya kembali gila karena bingung cari kamera dan waktu yang tepat buat posting, dan waktu kemarin itu sangat sulit karena saya sedang menjelang ujian.

Oh iya, seingatku bukan buku ini deh yang saya menangkan, tapi ini sudah jauh lebih baik daripada saya tidak ada bacaan. Hehehehe… Di sisi lain, ibuku tadinya berharap itu amplang atau sejenis kue. Beliau tampaknya teringat dengan Paket pertamaku dulu. Hahaha… Ya sudahlah, terima kasih banyak buat Genksukasuka.com yang sudah mengirimkan paket ini ke saya. Maaf telat buat postingnya. Wassalam! 😀

 

 

 

Flash Fiction: El

Selamat Ulang Tahun, El.

“Apa kabarmu?” suara itu menggema di telingaku.

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, aku mencari sumber suara yang sepertinya kukenal itu. El, suaranya persis dia, mungkin saja memang dia, tapi tidak mungkin, dia tidak mungkin di sini. Mungkin perasaanku saja.

Kembali lagi aku memandangi langit di kursi panjang taman itu. Layar laptop di pangkuanku memandangku dengan ekspresi yang entah apa karena sedari tadi aku tidak mengacuhkannya. Mungkin saja dia ingin menuntut haknya untuk diperhatikan. Toh, di sini aku hanya ingin berduaan dengan laptopku saja membahas makalah yang mati ide ini.

Kembali jariku menari di atas papan tombol laptopku itu, mengetik dengan segala ide yang ada. Kemudian, sesuatu lagi-lagi menghentikanku. Seseorang menutup paksa laptop di pangkuanku itu, lalu dia duduk di sampingku.

Baca lebih lanjut

Impian: Pengen Santai

Ini adalah postingan yang dibuat berdasarkan undangan dari Urkhan. Postingan ini akan bercerita tentang ‘impian’. Huahahahaha… Impian. Serius, impian. Sebetulnya saya tidak punya impian yang terlalu banyak, sederhana saja: masuk surga. Akan tetapi, kalau bicara soal impian, pasti kita akan bicara tentang keinginan di dunia yang kemudian akan menunjang ke tujuan setelah dunia. Jadi, alangkah nggak bagusnya kalau yang saya bahas adalah tentang masuk surga. #eh.

Baca lebih lanjut

Menunggu di Tepi Hujan

Angin berhembus pelan, langit hampir tertutup awan. Aku masih berjalan-jalan kecil, hilir mudik, menunggu. Langit makin gelap terasa mendung, tapi rinai gerimis belum juga turun. Aku masih bisa menunggu di sini, setidaknya di sekitar sini. Jalur bolak-balik yang sedari tadi kujejali kini kutinggalkan dan sekarang adalah giliran bagi kursi di halte kuning itu untuk merasakan kegelisahanku.

Halte kuning itu mungkin dulunya adalah telepon umum koin, aku bisa melihatnya dari corak cat yang melambangkan perusahaan komunikasi tertua di negeri ini. Atau mungkin juga tidak, aku tidak tahu persisnya. Lapangan hijau di belakangku ini dipagari oleh dinding rendah bercat kuning dan merah bata, serta aku juga bisa melihat sebuah gapura yang menjadi gerbang masuknya. Di atas gapura itu tertulis jelas, Lapangan Sepak Bola Emmy Saelan. Aku tidak mungkin salah tempat.

Baca lebih lanjut

Ngaco’, Sebuah Karakter Tersembunyi

Entah ada angin apa, ada hujan apa, tiba-tiba saya mau nge-post lagi. Barangkali ini bukan tentang sesuatu yang kupikirkan hari ini. Hmm… Apa ya? Apa ya? Apa ya? Hmmm… Lupakan. Ini hanya kalimat pembuka, dan saya selalu membuat kalimat pembuka yang buruk. 😆

Dunia nyata berbeda dengan dunia maya. Kalau dipikir, bedanya terlalu banyak. Saya jadi bingung sendiri mau mendukung yang mana, dunia nyata atau dunia maya, ya? Tapi sepertinya ya tidak ada pertarungan antara dua dunia, deh. Yang jelas, sejak berkecimpung di dunia blog, ada sesuatu yang berubah dari diri saya, mungkin diri orang lain juga. Separuh diriku mau tidak mau sudah tersedot ke dunia maya. Jadi, diriku di dunia nyata jadinya tinggal separuh. #lho?

Di dunia nyata, saya tidak mungkin berkata-kata lugas seperti di atas. Itu terlalu ngaco’ untuk ukuran orang di sekitar saya. Ya, meskipun ngaco’, saya suka itu. Di mana lagi saya bisa berkata-kata sesuka hati saya, mengeluarkan apa yang tidak pernah saya keluarkan di dunia nyata selain di dunia maya alias internet. Iya nggak?

Entah sudah berapa banyak posting yang saya buat untuk mengeluarkan hasrat akan ke-ngaco’-an di dalam diri saya. Soalnya, kalau hasrat ke-ngaco’-an itu keluar secara berlebihan di dunia nyata, saya nggak tahu mau ditaro di mana nih muka (ada yang punya ember?). Ya, tapi menurut saya dibandingkan dengan sekedar mengeluarkan ke-ngaco’-an bergaul di dunia maya, khususnya mungkin di blog, memiliki sesuatu yang lebih luas. Dunia maya ini mengeluarkan sesosok karakter yang sebenarnya dari si penulis.

Baca lebih lanjut

Langit Hampa

“Hhhh…” Aku menghela napas sembari memandangi langit yang malu-malu menampakkan wujudnya.

Aku selalu duduk di teras ini tiap sore. Pandanganku yang selalu terhalang bangunan-bangunan tinggi yang tak elok tidak menghalangiku memandangi langit. Alasannya, ya karena aku senang memandangi langit yang selalu mengingatkanku padamu. Selalu.

Tidak ada awan, hanya kelabu di langit senja. Hari ini aku gagal mendapatkan sensasi mengenangmu lagi. Langit tanpa awan hari ini bagaikan aku tanpamu. Hampa. Andaikan saja dirimu tidak harus pergi lama di negeri sana, mungkin hidupku tidak akan sehampa ini, yang hanya kuisi dengan memandangi awan luas seperti yang biasa kita lakukan dulu di halaman belakang sekolah. Ya, bedanya adalah karena kini aku sendiri di sini.

Langit hampa ini seperti langit hatiku yang mendung tanpa hujan. Hatiku menantikan hujan berupa kabar darimu selama empat musim di sana. Empat musim yang serasa satu abad bagiku. Aku benar-benar merindukanmu. Sungguh. Kapankah kau akan pulang? Setidaknya beri aku kabar. Baik-baik sajakah dirimu setelah gempa hebat di sana? Beri aku kabar! Kabarmu bagaikan hujan yang menggantung di langit mendung. Aku taktahu kabar apa yang akan sampai padaku. Hujankah? Petirkah?

— Flash Fiction (180 kata).–

Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:.

Tentang…

Aku sayang kalian
Bukan sekedar kata-kata
Yang kuucap dalam dekap cinta
Bukan hanya cerita kemarin lusa

Tentang sesuatu yang berharga
Tentang sesuatu yang bermakna
Tentang mereka yang mengubah dan berubah
Tentang aku yang menjadi mereka

Ini tentang seseorang. Ah, bukan, tapi banyak orang. Ah, entahlah. Kalau ditanya tentang seseorang yang berharga dalam hidupku, mereka itu adalah orangtuaku, adik-adikku, sahabat-sahabatkusaudara-saudara seperjuanganku, guru-guruku, dan ah… terlalu banyak. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan mereka, yang memberikan berbagai warna pada hidupku, yang mewarnaiku dengan karakter.

Baca lebih lanjut

Surat untukmu, Jom

Teruntuk adikku, Jombreng.

Aku harap kau masih mengenali nama kesayangan yang kuberikan kepadamu, Jom. Hahaha, aku tahu kau di sana pasti sedang sibuk dengan urusanmu, seperti halnya aku. Aku tahu persis karena selama kita masih bersama tinggal di rumah dulu, kita selalu meluangkan waktu kita untuk sekedar berkelahi bersama. Sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktuku di kampus, dan kau baru saja akan menghadapi dunia yang tengah kuhadapi ini.

Baca lebih lanjut