THE LIEBSTER AWARD

Simply, saya dapat mandat dari Danni Moring untuk mengerjakan beberapa tugas dengan iming-iming sebuah award. Baiklah, karena saya masih seorang narablog, saya menghargai penganugerahan award ini. Dan berikut adalah peraturan dari penganugerahan award ini.

  • Jikalau engkau terkena tag ini, tulislah kiranya 11 hal tentang dirimu. Cukup 11. Itu sudah banyak. Tak usah pakai sekian dan terimakasih.
  • Jikalau engkau terkena tag ini, jawablah pertanyaan yang diajukan oleh seseorang yang dengan santainya memberi tag padamu
  • Jikalau engkau terkena tag ini, buatlah 11 pertanyaan baru untuk orang yang ingin kau tag
  • Jikalau engkau terkena tag ini, tentukanlah 11 orang untuk dapat award ini dan link-kan mereka ke post-mu
  • Jikalau engkau terkena tag ini, pergi ke halaman blog mereka dan kasih tau kalo mereka dapat award ini
  • Jikalau engkau terkena tag ini, janganlah engkau melakukan tag balik

Komentar saya terhadap peraturan ini adalah terlalu banyak kata “jikalau”-nya. Pertanyaannya, apakah maksud dari semua ini? Adakah kode atau maksud tersembunyi dari kata “jikalau” ini? Tapi, lupakanlah.

Bagian 1: 11 hal tentang saya.

  1. Saya masih muda saat menulis ini
  2. Saya laki-laki
  3. Sensitif dengan pertanyaan “kenapa masih…” dan “kenapa belum…”
  4. Tidak suka filem Korea, tapi suka komik Korea
  5. Tidak bisa basa-basi
  6. Jarang mandi dan memang tidak terlalu suka mandi
  7. Suka membuat planning, tapi hampir selalu gagal dalam aktuating
  8. Beri saya waktu duduk diam 5 menit tanpa suara dan saya akan tertidur
  9. Saat ini sedang terobsesi dengan Damon Salvatore
  10. Saat ini kalau sedang OL biasanya hanya membuka 4 situs yaitu: blog ini, twitter, facebook, dan mangafox
  11. Sering lupa dimana menyimpan sesuatu

Ini adalah pertanyaan dari Danni Moring terkait dengan award ini. Pertanyannya adalah apa yang saya bayangkan tentang:

  1. Kumis
  2. Kotak-kotak
  3. Polkadot
  4. Jenggot
  5. Pusing
  6. Code
  7. Konspirasi
  8. Rematik
  9. Tamiya
  10. Burger
  11. Biru
  1. Kumis? *langsung pegang bibir, masih ada*
  2. Kotak-kotak? Itu seperti corak baju kuliah kemeja kesukaan saya
  3. Polkadot? Seperti corak celana dalam di filem kartun jaman dulu
  4. Jenggot? *langsung pegang dagu, ternyata nggak ada*
  5. Pusing? Sensasi terputar
  6. Code? Bahasa kias
  7. Konspirasi? Rencana dibalik rencana
  8. Rematik? Teringat sama infeksi Streptokokkus, PJR (Penyakit Jantung Rematik) dan DR (Demam Rematik)
  9. Tamiya? Teringat sama sejenis mainan yang tidak boleh kubeli waktu kecil
  10. Burger? Teringat sama sejenis makanan yang tidak pernah kumakan waktu kecil
  11. Biru? Teringat sama warna kesukaan adikku

Karena saya telah memenuhi kewajiban saya dengan menjawab pertanyaan yang dilimpahkan kepada saya, saya berhak atas award ini:

Dan berhubung ini adalah award bergilir –yang mana kesimpulan ini bisa saya tarik dari peraturan yang telah dipaparkan sebelumnya– maka saya akan menetapkan kandidat selanjutnya untuk memperoleh award ini beserta pertanyaan untuk para kandidat tersebut.

Pertanyaan untuk para kandidat adalah sebagai berikut. Kesan seperti apakah yang terpikirkan di kepala Anda ketika Anda mendengar kata:

  1. Ujian
  2. Besok
  3. Vampir
  4. Nyamuk
  5. Kucing
  6. Debu
  7. Langit
  8. Pohon
  9. Bisa
  10. Remas
  11. Kocok

Dan para kandidat yang beruntung menjawab pertanyaan tersebut sekaligus berhak atas award di tulisan ini adalah:

  1. Gandi
  2. Puch
  3. Tika
  4. Tiesa
  5. Putra
  6. Aldilalala
  7. Kabut
  8. Sulung
  9. [Open Candidate]
  10. [Open Candidate]
  11. [Open Candidate]

Disebabkan oleh karena keterbatasan waktu saya selaku Admin, saya hanya mampu menetapkan 8 kandidat, dan mempersilakan 3 calon kandidat terbuka bagi siapa saja yang bersedia. Apabila ada calon kandidat yang telah menerima award ini sebelumnya, maka keputusan untuk mengerjakan tugas dari tulisan ini diserahkan sepenuhnya kepada calon kandidat tersebut.

Demikian, apabila terdapat kesalahan dalam tulisan ini, saya haturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk jiwa terdalam saya. Demikianlah tulisan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Makassar, 19/9/2012

Impi

Kosong dari impian

Dan tetap hendak berjalan

Meski pertimbangan tidak pernah jadi keputusan

Keraguan mutlak menjadi pilihan

Semua berjalan lancar dalam fatamorgana

Namun tidak di dunia nyata

Kau, di manakah kau hidup?

Bisa-bisanya mimpi yang membawamu kemari meninggalkanmu begini?

Dear, My Blog…

Hai, apa kabarmu? Sekian lama saya sudah tidak menemuimu. Apa kabarmu? Aku ingin sekali tahu apa kabarmu.

Hai, maafkan saya yang selama ini terlalu sibuk. Maaf, ya. Saya bukan bermaksud untuk menelantarkanmu, tolong jangan marah. Tolong jangan marah.

Perlu kau mengerti, saya sedang dalam masalah besar. Bagi sebagian orang mungkin biasa, tapi ini masalah besar bagiku. Andaikan kau mampu berdoa, doakan saja saya supaya bisa menyelesaikan ini dengan baik. Ya, andaikan kau bisa, doakan saya. Atau ceritakan kepada dunia tentang laraku agar mereka mendoakan. Saya ketakutan menghadapi ini sehingga saya lupa untuk menyapamu tiap hari. Saya mohon, mohon sekali kau mengerti dan melakukan yang kau bisa. Tunggulah saya…

 

 

 

Inside Words

Hari ini saya sadar, kalau saya harus berusaha lebih keras. Dari sekian banyak pekerjaan yang terabaikan, dan sekian banyak janji yang kulanggar, serta banyaknya rencana yang tidak terealisasi, saya sadar di mana kelemahanku. Saya harus berusaha lebih keras, meski saya tahu gagal demi gagal akan lagi-lagi kuhadapi.

*)Buat yang wisuda hari ini, SELAMAT YA!!

Masalah… Ini Masalah…

Huahahahaha… rasanya mau tertawa sambil menangis, tapi bagaimana caranya? Jadi, begini masalahnya. Masalahnya adalah saya punya banyak masalah tapi setiap kali mau minta saran orang untuk mengatasi masalah ini, orang lain cuma bilang: ITU MASALAH LO! JANGAN CURHAT, DEK!

Jadi, itu masalahnya! Jelas?! OK. Saya yakin tidak jelas. Nenek-nenek salto juga pasti nggak bakalan ngerti apa yang saya maksudkan. Ini semua sebenarnya disebabkan oleh waktu. Saya selalu terlambat. Terlambat datang dinas, terlambat bangun tidur, terlambat tidur siang, bahkan kadang terlambat sadar kalau itu semua adalah masalah. Sekarang sudah jam setengah satu siang tanggal 9 September 2012, dan itu artinya masalah kalau saya belum menyelesaikan masalah-masalah itu.

Pasti mengawang-awang apa yang saya maksudkan dengan masalah kan? OK, setelah bertapa selama beberapa menit lamanya, akhirnya saya memutuskan suatu keputusan dan sebuah tali jemuran. Jadi, masalah-masalah saya akan saya staging sehingga mudah untuk diselesaikan.

Stage 1: Saya harus ke Rumah Sakit buat operan ke koas minggu ini, sekaligus mengemis nilai, sekaligus mengemis tanda tangan untuk logbook yang naudzubillah susah dilengkapi. Untuk itu, saya harus fotokopi lembar nilai dan siapkan Flash Disk untuk diisikan data minggu lalu.

Stage 2: Saya harus pulang ke rumah buat cuci motor yang sudah ganti cat dengan debu dan dedaunan kering. Juga harus cukur rambut dengan indikasi cermin bagiku sudah tampak seperti brokoli hitam. Juga harus makan dan buang air dengan puas tanpa harus bayar. Juga minta doa restu orang tua untuk masalahku yang sebenarnya. Dan tidak lupa mandi karena sudah hampir satu setengah minggu saya tidak mandi sama sekali.

Stage 3: Ke kampus menyelesaikan proyek yang berhubungan dengan uang. Lalu, kembali lagi ke rumah sakit, mencari orang-orang penting untuk (lagi-lagi) dimintai tanda tangan untuk logbook yang naudzubillah itu. Dan juga diskusi status untuk legalitas ikut ujian lisan.

Stage 4: Besok, cari toga buat wisuda hari Selasa! Yeah!

Masalahnya yang sebenarnya adalah karena saya belum ujian lisan untuk keluar dari bagian supersibuk ini, tetapi saya sudah berencana untuk melakukan kecurangan di bagian yang tidak sibuk setelahnya. Kuharap tidak ada hal buruk yang terjadi karena jika hal itu betul terjadi maka celakalah aku yang artinya saya harus mengundur masa depanku satu minggu ke depan lagi.

Saran dari mereka yang kebetulan mendengar keluh kesah kebingungan dari mahasiswa labil yang multitasking ini adalah yang pertama: HANTAM LURUS! yang artinya berbuatlah curang selagi tidak ketahuan. Yang kedua: MUNDUR SELANGKAH UNTUK MAJU SERIBU LANGKAH! yang artinya mundur satu minggu supaya bisa lebih tenang yang sebetulnya sama sekali tidak menjamin ketenanganku. Yang ketiga yang paling membingungkan: ITU MASALAH LO! (“-_-)

Lima belas menit setelah saya mulai menulis, sekarang saya merasa semakin gelisah, sebaiknya saya segera cabut. Mancabut segala yang perlu dicabut, dan mudah-mudahan waktunya cukup. Baiklah saya bergegas dulu! Doakan aku!

Sarjana

Tidak terasa sudah beberapa bulan sejak kita bertemu kembali, berbagai cara sudah kulakukan untuk beradaptasi dengan keadaan demi metamorfosis rasa menuju ke bentuk yang lebih baik. Sayangnya, semuanya selalu kembali kepada pemakluman -bentuk adaptasi absolut- yang berujung pada stagnansi bentuk rasa.

“Ah, bicara apa aku ini?” Kataku memecah hening. Padahal sebelumnya tidak ada yang berbicara apa-apa.

Sendirian, sebuah keadaan yang selalu membuatku berbicara sendiri. Entah di dalam hati, entah itu terlontar oleh lidah lancangku ini, semuanya adalah refleksi diri melalui logika dan rasa, hanya saja semuanya dipengaruhi oleh benda-benda tempatku becermin yang kian tidak stabil. Mereka bermetamorfosis.

Aku duduk di kursi panjang dengan kaki terlipat ke atas kursi, melamun, memandangi sekeliling. Tampak alat-alat kantor berserakan di tempatku bertugas kini. Seingatku pagi tadi semuanya sangat sibuk kasak-kusuk sana sini sampai tidak peduli pada apapun. Sekarang? Aku bahkan bisa berbicara pada semua yang ada di sini, printer, kertas yang berserakan, catatan yang tertempel di papan, kursi panjang yang diterpa hangat mentari, dan semuanya mengatakan aku telah gila.

***

Aku duduk, menunggu apa yang akan datang di ponselku siang ini. Aku menunggu kabarnya, untuk bisa mengirim balasan selamat untuk yudisiumnya hari ini. Aku gila, aku lagi-lagi berbicara pada diriku sendiri. Apakah ini suatu pertanda gangguan jiwa yang nyata? Kenapa pula aku harus jadi gila? “Masalahmu apa?” kataku pada pantulan wajah yang ada di monitor laptopku. Aku sendirian di sini, aku benar-benar gila.

“Segalanya tidak berjalan sebagaimana mestinya, kau sadar tidak?” kurasa itu sisi berwarna hitamku yang berbicara. Dia berbicara kepada pantulan di layar laptopku, sehingga aku merasa dimarahi. Sial! Kenapa pula aku dimarahi? Aku salah apa?

“Kau buyar! Kau sadar tanggung jawabmu tidak?” lanjutnya. Aku kini sadar bahwa yang dimaksudkan si hitam adalah menyangkut pekerjaanku yang berserakan tidak beraturan. Hitam, dia adalah logika dengan banyak rasa takut.

“Tenangkan dirimu, kau tidak bisa berpikir dalam kondisi serba salah.” kurasa ini si hijau yang berbicara. Secara langsung dia membuatku menghela napas panjang dan merasakan oksigen 21% yang berceceran di udara sekitarku.

“Banyak pekerjaan! Jangan terlalu santai. Ayo kerja lagi!” tanpa kusebutkan kurasa semuanya sudah tahu siapa yang kali ini berbicara, Hitam. Kurasakan dadaku terputar hampa, rasa takut pun menyelimuti. Si hitam ini memiliki sisi aneh di balik kekuatannya. Dia yang menyuruh, dan dia pula yang ketakutan.

“Sepenting itukah dia?” ini hijau yang bertanya. Kurasa dia bertanya kepada si merah yang sedari tadi diam. “Sampai kau kacau begini?”

“Ya, ini adalah waktu kosong, tidak ada orang di sini, tidak ada perintah, kau bisa lakukan pekerjaanmu! Lakukan! Lakukan sebelum…” lalu dia menarik napas panjang. Aku bisa merasakan kepanikan dari hitam yang terus-menerus mengomel.

“Lupa kan? Mau buat apa? Tenangkan dirimu, tapi jangan tidur kalau tidak mau dapat masalah lagi.” kurasa hijau menyambung si hitam lagi. Dia adalah sisi diriku yang menghendaki ketenangan jiwa, semacam bagian kecil yang menjabat sebagai penasehat.

Aku tahu ini tidak boleh terjadi, kejadian di mana bagian-bagian kepribadianku terpencar sehingga sikap yang kuambil selalu punya beberapa opsi. Ini adalah sumber kekacauanku sekarang. Logika lemahku selalu membuat rencana yang pasti tidak terlaksana disebabkan rasa yang tidak kunjung stabil dari proses adaptasi dan evolusinya yang takhenti karenamu. Tapi, di mana si Merah? Rasa dan ambisi yang biasanya meledak-ledak?

***

Selamat atas gelar sarjananya : D

Akhirnya pesan itu bisa kukirimkan kepadamu. Dan akhirnya si merah pun berbicara, “Mari lanjutkan pekerjaan.”