Impi

Kosong dari impian

Dan tetap hendak berjalan

Meski pertimbangan tidak pernah jadi keputusan

Keraguan mutlak menjadi pilihan

Semua berjalan lancar dalam fatamorgana

Namun tidak di dunia nyata

Kau, di manakah kau hidup?

Bisa-bisanya mimpi yang membawamu kemari meninggalkanmu begini?

Dear, My Blog…

Hai, apa kabarmu? Sekian lama saya sudah tidak menemuimu. Apa kabarmu? Aku ingin sekali tahu apa kabarmu.

Hai, maafkan saya yang selama ini terlalu sibuk. Maaf, ya. Saya bukan bermaksud untuk menelantarkanmu, tolong jangan marah. Tolong jangan marah.

Perlu kau mengerti, saya sedang dalam masalah besar. Bagi sebagian orang mungkin biasa, tapi ini masalah besar bagiku. Andaikan kau mampu berdoa, doakan saja saya supaya bisa menyelesaikan ini dengan baik. Ya, andaikan kau bisa, doakan saya. Atau ceritakan kepada dunia tentang laraku agar mereka mendoakan. Saya ketakutan menghadapi ini sehingga saya lupa untuk menyapamu tiap hari. Saya mohon, mohon sekali kau mengerti dan melakukan yang kau bisa. Tunggulah saya…

 

 

 

Inside Words

Hari ini saya sadar, kalau saya harus berusaha lebih keras. Dari sekian banyak pekerjaan yang terabaikan, dan sekian banyak janji yang kulanggar, serta banyaknya rencana yang tidak terealisasi, saya sadar di mana kelemahanku. Saya harus berusaha lebih keras, meski saya tahu gagal demi gagal akan lagi-lagi kuhadapi.

*)Buat yang wisuda hari ini, SELAMAT YA!!

Masalah… Ini Masalah…

Huahahahaha… rasanya mau tertawa sambil menangis, tapi bagaimana caranya? Jadi, begini masalahnya. Masalahnya adalah saya punya banyak masalah tapi setiap kali mau minta saran orang untuk mengatasi masalah ini, orang lain cuma bilang: ITU MASALAH LO! JANGAN CURHAT, DEK!

Jadi, itu masalahnya! Jelas?! OK. Saya yakin tidak jelas. Nenek-nenek salto juga pasti nggak bakalan ngerti apa yang saya maksudkan. Ini semua sebenarnya disebabkan oleh waktu. Saya selalu terlambat. Terlambat datang dinas, terlambat bangun tidur, terlambat tidur siang, bahkan kadang terlambat sadar kalau itu semua adalah masalah. Sekarang sudah jam setengah satu siang tanggal 9 September 2012, dan itu artinya masalah kalau saya belum menyelesaikan masalah-masalah itu.

Pasti mengawang-awang apa yang saya maksudkan dengan masalah kan? OK, setelah bertapa selama beberapa menit lamanya, akhirnya saya memutuskan suatu keputusan dan sebuah tali jemuran. Jadi, masalah-masalah saya akan saya staging sehingga mudah untuk diselesaikan.

Stage 1: Saya harus ke Rumah Sakit buat operan ke koas minggu ini, sekaligus mengemis nilai, sekaligus mengemis tanda tangan untuk logbook yang naudzubillah susah dilengkapi. Untuk itu, saya harus fotokopi lembar nilai dan siapkan Flash Disk untuk diisikan data minggu lalu.

Stage 2: Saya harus pulang ke rumah buat cuci motor yang sudah ganti cat dengan debu dan dedaunan kering. Juga harus cukur rambut dengan indikasi cermin bagiku sudah tampak seperti brokoli hitam. Juga harus makan dan buang air dengan puas tanpa harus bayar. Juga minta doa restu orang tua untuk masalahku yang sebenarnya. Dan tidak lupa mandi karena sudah hampir satu setengah minggu saya tidak mandi sama sekali.

Stage 3: Ke kampus menyelesaikan proyek yang berhubungan dengan uang. Lalu, kembali lagi ke rumah sakit, mencari orang-orang penting untuk (lagi-lagi) dimintai tanda tangan untuk logbook yang naudzubillah itu. Dan juga diskusi status untuk legalitas ikut ujian lisan.

Stage 4: Besok, cari toga buat wisuda hari Selasa! Yeah!

Masalahnya yang sebenarnya adalah karena saya belum ujian lisan untuk keluar dari bagian supersibuk ini, tetapi saya sudah berencana untuk melakukan kecurangan di bagian yang tidak sibuk setelahnya. Kuharap tidak ada hal buruk yang terjadi karena jika hal itu betul terjadi maka celakalah aku yang artinya saya harus mengundur masa depanku satu minggu ke depan lagi.

Saran dari mereka yang kebetulan mendengar keluh kesah kebingungan dari mahasiswa labil yang multitasking ini adalah yang pertama: HANTAM LURUS! yang artinya berbuatlah curang selagi tidak ketahuan. Yang kedua: MUNDUR SELANGKAH UNTUK MAJU SERIBU LANGKAH! yang artinya mundur satu minggu supaya bisa lebih tenang yang sebetulnya sama sekali tidak menjamin ketenanganku. Yang ketiga yang paling membingungkan: ITU MASALAH LO! (“-_-)

Lima belas menit setelah saya mulai menulis, sekarang saya merasa semakin gelisah, sebaiknya saya segera cabut. Mancabut segala yang perlu dicabut, dan mudah-mudahan waktunya cukup. Baiklah saya bergegas dulu! Doakan aku!

Sarjana

Tidak terasa sudah beberapa bulan sejak kita bertemu kembali, berbagai cara sudah kulakukan untuk beradaptasi dengan keadaan demi metamorfosis rasa menuju ke bentuk yang lebih baik. Sayangnya, semuanya selalu kembali kepada pemakluman -bentuk adaptasi absolut- yang berujung pada stagnansi bentuk rasa.

“Ah, bicara apa aku ini?” Kataku memecah hening. Padahal sebelumnya tidak ada yang berbicara apa-apa.

Sendirian, sebuah keadaan yang selalu membuatku berbicara sendiri. Entah di dalam hati, entah itu terlontar oleh lidah lancangku ini, semuanya adalah refleksi diri melalui logika dan rasa, hanya saja semuanya dipengaruhi oleh benda-benda tempatku becermin yang kian tidak stabil. Mereka bermetamorfosis.

Aku duduk di kursi panjang dengan kaki terlipat ke atas kursi, melamun, memandangi sekeliling. Tampak alat-alat kantor berserakan di tempatku bertugas kini. Seingatku pagi tadi semuanya sangat sibuk kasak-kusuk sana sini sampai tidak peduli pada apapun. Sekarang? Aku bahkan bisa berbicara pada semua yang ada di sini, printer, kertas yang berserakan, catatan yang tertempel di papan, kursi panjang yang diterpa hangat mentari, dan semuanya mengatakan aku telah gila.

***

Aku duduk, menunggu apa yang akan datang di ponselku siang ini. Aku menunggu kabarnya, untuk bisa mengirim balasan selamat untuk yudisiumnya hari ini. Aku gila, aku lagi-lagi berbicara pada diriku sendiri. Apakah ini suatu pertanda gangguan jiwa yang nyata? Kenapa pula aku harus jadi gila? “Masalahmu apa?” kataku pada pantulan wajah yang ada di monitor laptopku. Aku sendirian di sini, aku benar-benar gila.

“Segalanya tidak berjalan sebagaimana mestinya, kau sadar tidak?” kurasa itu sisi berwarna hitamku yang berbicara. Dia berbicara kepada pantulan di layar laptopku, sehingga aku merasa dimarahi. Sial! Kenapa pula aku dimarahi? Aku salah apa?

“Kau buyar! Kau sadar tanggung jawabmu tidak?” lanjutnya. Aku kini sadar bahwa yang dimaksudkan si hitam adalah menyangkut pekerjaanku yang berserakan tidak beraturan. Hitam, dia adalah logika dengan banyak rasa takut.

“Tenangkan dirimu, kau tidak bisa berpikir dalam kondisi serba salah.” kurasa ini si hijau yang berbicara. Secara langsung dia membuatku menghela napas panjang dan merasakan oksigen 21% yang berceceran di udara sekitarku.

“Banyak pekerjaan! Jangan terlalu santai. Ayo kerja lagi!” tanpa kusebutkan kurasa semuanya sudah tahu siapa yang kali ini berbicara, Hitam. Kurasakan dadaku terputar hampa, rasa takut pun menyelimuti. Si hitam ini memiliki sisi aneh di balik kekuatannya. Dia yang menyuruh, dan dia pula yang ketakutan.

“Sepenting itukah dia?” ini hijau yang bertanya. Kurasa dia bertanya kepada si merah yang sedari tadi diam. “Sampai kau kacau begini?”

“Ya, ini adalah waktu kosong, tidak ada orang di sini, tidak ada perintah, kau bisa lakukan pekerjaanmu! Lakukan! Lakukan sebelum…” lalu dia menarik napas panjang. Aku bisa merasakan kepanikan dari hitam yang terus-menerus mengomel.

“Lupa kan? Mau buat apa? Tenangkan dirimu, tapi jangan tidur kalau tidak mau dapat masalah lagi.” kurasa hijau menyambung si hitam lagi. Dia adalah sisi diriku yang menghendaki ketenangan jiwa, semacam bagian kecil yang menjabat sebagai penasehat.

Aku tahu ini tidak boleh terjadi, kejadian di mana bagian-bagian kepribadianku terpencar sehingga sikap yang kuambil selalu punya beberapa opsi. Ini adalah sumber kekacauanku sekarang. Logika lemahku selalu membuat rencana yang pasti tidak terlaksana disebabkan rasa yang tidak kunjung stabil dari proses adaptasi dan evolusinya yang takhenti karenamu. Tapi, di mana si Merah? Rasa dan ambisi yang biasanya meledak-ledak?

***

Selamat atas gelar sarjananya : D

Akhirnya pesan itu bisa kukirimkan kepadamu. Dan akhirnya si merah pun berbicara, “Mari lanjutkan pekerjaan.”

Ada Gelisah di Sini…

Siang ini saya sendirian lagi di tempat dinas yang menyiksa ini. Orang-orang pada kabur semua. Entah kabur yang konotasi ataupun kabur yang denotasi, karena jujur mataku sekarang sudah semakin rabun. Sendirian begini, biasanya inspirasi datang bertubi-tubi sampai tidak bisa ditumpahkan lagi, tapi sekarang? Huh, justru hampir kebalikannya. Justru karena tidak tahu mau berbuat apa makanya ngeblog.

Sisi diriku yang lain pasti marah besar dan kecewa mendengar pernyataan barusan. Dia, maksudnya saya, tahu persis bahwa kerjaan itu banyak. Hanya saja, dia itu tidak pernah menyebutkan secara rinci apa yang harus dikerjakan dan kapan. Sisi diriku yang lain itu kerjaannya hanya marah-marah kalau sudah keteteran dan waktu sudah mendesak. Salah, dia marah-marah terus, malah. Kadang saya mendapati diriku dimarahi oleh diriku sendiri ketika sedang bersantai. Dia bilang, “Kenapa santai? Banyak kerjaan, tau!”. Dan yang paling membuat kesal dari diriku sendiri ini adalah ketika dia marah-marah saja tanpa memberi tahu apa yang harus dikerjakan. Syukur-syukur, karena sisi diriku itu baru mulai memarahi orang lain hanya pada saat keteteran, bukan pada saat santainya juga.

Memiliki sisi diri seperti itu seperti memiliki ombak di dalam hati. Hati ini selalu gelisah dan tidak tenang, terus bergerak dan menghantam sana-sini. Saya tidak tahu apa yang salah, karena seingatku saya ini adalah sosok yang tenang dan sulit dibuat gelisah. Sekarang, tampilan luarnya saja yang lemas, di dalam sebenarnya kasak-kusuk gelisahnya minta ampun.

Saya masih di sini, di tempat yang sama ketika menuliskan kata pertama di tulisan ini. Sekarang saya merasa sangat lemas, tetapi ada yang membuat saya tidak tenang. Tugas kah? ACC ujian kah? Takut ditinggalkan, kah? Semua itu masalah. Dan kuharap tiga orang yang selalu berunding di dalam sini *nunjuk dada sendiri* bisa menyelesaikan masalah itu dengan sempurna sampai selesai. Kuharap semuanya itu berjalan baik-baik saja, dan semoga saya selalu mengambil langkah yang benar. Ya, karena saya sudah lelah fisik disebabkan gelisah di hati.

Beli Tinta Print

Ini betul-betul siang yang panas. Saya duduk-duduk di tempatku dinas hari ini dengan kondisi yang tiba-tiba mengantuk. Barusan saya berkeliling jalan besar di sekitaran kampus untuk membeli… ehm… tinta printer. Kok beli tinta printer saja pakai ehm, ya? Sudahlah. Saya orang yang opportunistik, karenanya saya tidak biasa isi tinta printer. Jangankan ngisi tinta, beli tinta saja tidak tahu.

Tadinya, saya mau kerja tugas makalah. Namun, apa daya napas taksampai. Saya mengalami ketermengantukan. Jangan tanya saya kosa kata dari mana ini, ini hanya istilah saya saja. Kemudian, Zainul yang dari pagi pusing dengan printer di tempat dinas ini mengajak untuk keluar beli tinta printer. Kupikir, tidak masalah. Ya kan daripada mengantuk dan ketermengantukan ini makin liar adanya? Mendingan cari sensasi baru dengan beli tinta printer. Yeah!

Goblok. Sejak kapan belanja ATK semacam tinta printer dikatakan mencari sensasi baru? Ya sejak saya menulisnya tentu saja. Namun, yang terjadi bukan seperti yang diharapkan. Matahari membakar terik hingga kulit hitam terpanggang. Akibatnya sepulang dari beli tinta kulit saya jadi hitam. #eh, salah. Kulit saya yang sudah hitam ini jadi makin hitam adanya. Bukan karena diguyur tinta, ya! Jadinya, saya sampai kembali ke tempat dinas dengan keringat yang sudah mengering dihapus panas mentari yang menyengat sepanjang perjalanan.

Tapi, tadi ada sensasi menyenangkannya juga. Karena panas, saya melajukan motor saya sedikit lebih cepat, dan kurasakanlah angin sepoi-sepoi yang lumayan menghibur. Angin itu memberikan kesegaran dengan belaiannya yang langsung menyentuh ketiak. Mungkin kalau saya naik motornya nggak pakai baju, rambut ketiak itu sudah melambai-lambai seperti bendera.

Nah, setelah sampai di tempat dinas, kembali ke tempat ini lagi. Goblok. Saya tidak tahu caranya mengisi cartridge. Karenanya, saya menunggu sampai teman saya yang bertitel Sp.Pr-Cannon(K) datang dan menyelesaikan masalah ini. Kemudian Voila, akhirnya bisa ngeprint lagi.

*Entah inspirasi bodoh postingan kali ini datang dari mana

Perasaanku Nggak Enak

Hari ini perasaanku tidak enak sekali. Sungguh tidak enak. Mencari penyebabnya mungkin akan membuatnya menjadi 200 kali lebh tidak enak lagi, karena berpikir tentang rasa tidak enak ini saja sudah membuat dadaku sesak setengah mati. Aduh, kok jadi mirip lagunya D’Massiv, ya? 😦 *Aku sesak setengah mati kepadamu…* #NGACO

Di saat seperti ini, pelarian adalah pilihan utama untuk terapi paliatif. Akan tetapi, terapi paliatif semacam itu tidak mengena pada kausa utama keluhan ini. Terapi kausatif mungkin diambil, tetapi itu jelas akan sangat bertentangan dengan prinsip terapi paliatif. Tergantung penderita memilih yang mana. Ya, penderitanya saya sendiri dan yang mencoba untuk melakukan terapi adalah saya sendiri juga. Kondisi seperti ini disebut galau.

Kayaknya bahasa di paragraf di atas itu nggak semua orang mengerti, ya? Maaf, saya mabok nulisnya tuh, soalnya capek habis dari tugas malam terus dirundung kabar tidak mengenakkan yang namanya urusan akademik. Kalau ini tidak diselesaikan segera, bisa-bisa saya tidak ujian nantinya.

Ups, ketahuan deh masalahnya. Ujian. Ujian adalah masalah utamanya. Gejala penyerta antara lain belum belajar, berkas ujian belum ACC, dan solusi untuk permasalahan-permasalahan ini hanya Tuhan yang bisa bantu. Kalau ada yang mau bantu doa, jangan ditulis di kolom komentar, ya. Kirim aja nanti habis sholat, dan nggak usah kasih tahu saya, biar makbul doanya. *Aduh, jadi kangen sama si Makbul*

Blog ini sepertinya betul-betul menjadi blog yang sifatnya katarsis saja, pelampiasan saja. Tidak menghasilkan solusi. Namun, saya tidak tahu bagaimana caranya supaya ada solusi. Metode yang kugunakan selama ini sudah tidak lagi optimal. Defek waktu yang tercipta terlalu besar sehingga harus dilakukan koreksi total terhadap kausa defek tersebut yang antara lain berupa rasa malas dan galau. Belum lagi, solusi yang terpikirkan belum tentu efektif dan efisien dalam memecahkan masalah ini. Ditakutkan, langkah yang diambil bukannya menjadi solusi yang memecahkan masalah melainkan menjadi momok masalah baru yang mesti diselesaikan lagi di kemudian hari.

Tolong jangan stop saya ngerocos di sini. Memikirkan masalah ini sudah bikin saya sakit kepala dan sesak napas, sungguh kondisi yang tidak optimal untuk melakukan penyelesaian masalah ataupun berpikir tentang langkah yang akan diambil. Jadi, siapa kira-kira yang mau temani saya pergi ngopi-ngopi untuk sekedar menenangkan pikiran?

#eh, kok ujungnya ngopi-ngopi, ya? Ke warung kopi atau ke tukang fotokopi, nih? 😆 …Huh…